"Dialah Damai Sejahtera yang Mempersatukan": STTPJ dan SAJ Rayakan Natal dengan Refleksi Mendalam atas Surat Efesus
Sekolah Tinggi Teologi Pantekosta Jakarta (STTPj) dan Sekolah Alkitab Jakarta (SAJ) merayakan Natal dengan tema "Dialah Damai Sejahtera yang Mempersatukan" (Efesus 2:11-14), menekankan peran Kristus sebagai pemersatu yang merobohkan tembok pemisah antara manusia dan Allah, serta antar sesama. Acara ini menghadirkan khotbah reflektif yang mengangkat sejarah jemaat Efesus dan status orang non-Yahudi yang dipersatukan dalam iman melalui baptisan dalam nama Tritunggal. Melalui perayaan ini, SAJ mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat, merefleksikan makna Natal sebagai wujud kasih dan persatuan sejati dalam Kristus.
KABAR HARIAN


JAKARTA-Sekolah Alkitab dan Theologia "SAJ" menggelar perayaan Natal yang khidmat dan penuh makna dengan tema "Dialah Damai Sejahtera yang Mempersatukan", yang diambil dari Kitab Efesus 2:11-14. Acara yang berlangsung pada siang hari pada tanggal 9 Januari 2026 di Sentra GPdI Sunter ini tidak hanya diisi dengan puji-pujian dan persekutuan, tetapi juga dengan pengajaran yang mendalam tentang arti persatuan dalam Kristus.
Tema tersebut dipilih untuk menekankan bahwa Kristus adalah sumber perdamaian sejati yang mampu merobohkan tembok pemisah, baik antara manusia dengan Allah maupun antar sesama manusia. Perayaan dihadiri oleh para mahasiswa, dosen, dan staf yang bersemangat untuk merayakan kelahiran Sang Juru Selamat.
Kristus, Damai Sejahtera yang Mempersatukan
Dalam khotbahnya yang singkat namun padat, Pdt. Dr. Johnny W. Weol, M.M., M.Th. mengangkat pesan dari Surat Efesus pasal 2. Ditekankan bahwa Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus—yang sebagian besar berasal dari latar belakang non-Yahudi (bangsa lain)—untuk mengingatkan mereka akan status mereka yang dahulu: "tanpa Kristus, tidak termasuk dalam kewargaan Israel, dan asing dari perjanjian janji" (Efesus 2:12).
Namun, kematian Kristus di kayu salib telah mengubah segalanya. "Sebab Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan," (Efesus 2:14). Kristus menghapuskan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan demikian mengadakan damai sejahtera.
Pembicara yang juga adalah Pimpinan STTPJ dan SAJ menyentuh secara singkat konteks historis jemaat Efesus, yang didirikan oleh Paulus. Jemaat ini dibangun di atas dasar baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus—sebuah tanda inklusif bahwa keselamatan adalah bagi semua orang yang percaya, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Gereja lokal, yang dipimpin oleh gembala dan penatua, dipanggil untuk menjadi wujud nyata dari persatuan yang diciptakan oleh damai sejahtera Kristus.
Refleksi dan Penutup
Acara ditutup dengan doa syukur dan komitmen untuk menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat yang sering kali terpecah-belah. Setiap peserta kemudian menikmati makanan yang disediakan sambil bersenda gurau.
Mewakili Reffy Mandey, Ketua Yayasan Lima Puluh, Jerry Sumarauw, Sekretaris Yayasan, hadir dan menyatakan, "Perayaan Natal ini adalah momen bagi kita untuk tidak hanya bersukacita, tetapi juga merefleksikan panggilan kita sebagai pembawa damai. Tema ini mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus, tidak ada lagi perpecahan. STTPJ dan SAJ berkomitmen untuk terus mendidik calon-calon pelayan Tuhan yang dapat memberitakan pesan pemersatu ini." Sebagai sponsor utama penyelenggaraan Natal tersebut, Yayasan Lima Puluh mendukung penuh tiap acara yang berkaitan dengan peningkatan kerohanian para siswa SAJ dan mahasiswa STTPJ.
Perayaan Natal STTPJ dan SAJ tahun ini berhasil menghadirkan sukacita Natal sekalipun dilaksanakan secara sederhana, sekaligus memperkuat pemahaman teologis tentang peran sentral Kristus sebagai fondasi perdamaian dan persatuan sejati (AM/LS)
