PEMKRIS Resmi Deklarasikan Diri sebagai Rumah Besar Pemimpin dan Tokoh Kristen Indonesia

KABAR HARIAN

8/21/20265 min baca

Jakarta, 20 Agustus 2026 – Perkumpulan Pemimpin dan Tokoh Kristen Bersatu (PEMKRIS) resmi menggelar press conference, pelantikan Dewan Pengurus Pusat (DPP), serta deklarasi organisasi di CWS Hall Gedung Kenanga, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (20/8). Kehadiran PEMKRIS menjadi langkah awal dalam membangun wadah bersama bagi para pemimpin dan tokoh Kristen lintas denominasi dan lintas latar belakang di Indonesia.

PEMKRIS hadir sebagai organisasi yang menghimpun berbagai unsur masyarakat Kristen, mulai dari rohaniawan, cendekiawan, akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, hingga tokoh dari kalangan militer dan kepolisian. Organisasi ini membawa visi untuk menjadi rumah besar bersama bagi seluruh pemimpin dan tokoh Kristen interdenominasi di Indonesia, sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam mendampingi, mengawal, mengadvokasi, dan memperjuangkan hak-hak konstitusional umat Kristen.

Ketua Umum DPP PEMKRIS, Bishop Dr. Joshua BJJ. Tewuh, M.Th, mengatakan bahwa PEMKRIS dibentuk sebagai ruang untuk menyatukan potensi, pemikiran, dan peran para pemimpin serta tokoh Kristen dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

“PEMKRIS hadir untuk menjadi rumah besar bersama. Kami ingin membangun persatuan, memperkuat peran kepemimpinan, serta menghadirkan wadah yang mampu mendampingi dan memperjuangkan berbagai kepentingan umat secara konstruktif, dialogis, dan sesuai dengan koridor hukum serta konstitusi,” ujar Bishop Dr. Joshua BJJ. Tewuh, M.Th.

Mengawal Hak Konstitusional dan Membangun Sinergi

PEMKRIS menyatakan komitmennya untuk aktif dalam berbagai bidang, termasuk hukum dan hak asasi manusia, sosial, budaya, pendidikan Kristen, moderasi beragama, hingga hubungan internasional. Organisasi ini juga menempatkan dirinya sebagai pihak yang terbuka, ekumenis, interdenominasi, lintas golongan, dan independen serta tidak menjadi bagian, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari partai politik.

Dalam menjalankan perannya, PEMKRIS memiliki sejumlah fungsi strategis, antara lain sebagai kolaborator dalam membangun sinergi dengan pemerintah, konektor bagi para pemimpin dan tokoh Kristen, mediator dalam penyelesaian berbagai persoalan, hingga navigator bagi pengembangan kehidupan Kekristenan di Indonesia.

Salah satu agenda yang akan dikembangkan adalah penyediaan wadah atau Crisis Center sebagai pusat pelaporan berbagai persoalan mendesak yang berpotensi merugikan hak-hak konstitusional umat Kristen, baik secara individu maupun kelembagaan.

Selain itu, PEMKRIS juga berencana menjalankan berbagai program seperti pengembangan kaderisasi kepemimpinan, seminar, diskusi, lokakarya, kajian akademik, kegiatan sosial dan kemanusiaan, pendampingan terhadap lembaga pendidikan Kristen, serta penguatan kerja sama dengan jaringan pemimpin Kristen di tingkat internasional.

Pelantikan DPP dan Deklarasi PEMKRIS

Pelantikan Ketua Umum DPP PEMKRIS dilakukan oleh Irjen Pol. (Purn.) Dr. Ronny F. Sompie, S.H., M.H. selaku Ketua Dewan Pengawas. Acara juga menghadirkan sejumlah tokoh dalam struktur organisasi PEMKRIS, termasuk Prof. Dr. Yasonna H. Laoly, Ph.D sebagai Ketua Dewan Pembina, Jend. (Purn.) Herman B. Leopold Mantiri sebagai Ketua Dewan Pelindung, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Dharma Pongrekun sebagai Anggota Kehormatan, Prof. Thomas Pentury, M.Si sebagai Ketua Dewan Pakar, Brigjen (Purn.) Karel Albert Ralahalu sebagai Ketua Dewan Penasihat, serta Dr. Jimmy MR Lumintang, MA, MBA, MTH sebagai Ketua Dewan Pertimbangan.

Melalui deklarasi ini, PEMKRIS menegaskan komitmennya untuk membangun organisasi yang dapat menjadi wadah pemersatu sekaligus penggerak kontribusi para pemimpin dan tokoh Kristen bagi kemajuan Indonesia.

Keberadaan PEMKRIS juga telah memiliki dasar legal formal melalui Surat Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0001173.AH.01.07.TAHUN 2026 yang diterbitkan pada 11 Maret 2026.

Dengan mengusung semangat “Jaga, Kawal & Advokasi Kekristenan di Indonesia” PEMKRIS berharap dapat memperkuat persatuan, membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, serta mengambil peran konstruktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menuju Indonesia yang semakin maju, adil, dan harmonis.

PREDIKSI PERTANYAAN MEDIA

1. Apa yang melatarbelakangi berdirinya PEMKRIS?

2. Apa yang membedakan PEMKRIS dengan organisasi Kristen yang sudah ada?

3. Apakah PEMKRIS merupakan organisasi politik?

4. Dalam struktur PEMKRIS terdapat banyak tokoh berlatar belakang politik, pemerintahan, dan aparat. Bagaimana menjaga independensi organisasi?

5. Apa bentuk nyata advokasi yang akan dilakukan PEMKRIS?

6. Apa itu Crisis Center PEMKRIS?

7. Bagaimana sikap PEMKRIS terhadap isu intoleransi dan moderasi beragama?

8. Apakah advokasi PEMKRIS hanya untuk umat Kristen?

9. Apa program prioritas PEMKRIS?

10. Apakah PEMKRIS akan berkolaborasi dengan pemerintah?

11. Apa target jangka panjang PEMKRIS

Bishop Joshua Tewuh, Dari Pelayanan hingga Advokasi Nasional Kini Pimpin PEMKRIS

JAKARTA, 20 Agustus 2026 – Bishop Dr. Joshua Tewuh dipercaya memimpin Perkumpulan Pemimpin dan Tokoh Kristen Bersatu (PEMKRIS) sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP). Kepercayaan tersebut menandai babak baru perjalanan seorang tokoh rohani yang selama ini aktif membangun gerakan di bidang pelayanan, pendidikan, advokasi, kemanusiaan, dan penguatan kehidupan masyarakat Kristen di Indonesia.

Mandat untuk memimpin PEMKRIS diberikan dalam momentum pengukuhan kepengurusan nasional dan deklarasi organisasi yang digelar di Jakarta. Bishop Joshua Tewuh dipercaya memimpin organisasi yang membawa visi sebagai rumah besar bersama bagi para pemimpin dan tokoh Kristen lintas denominasi di Indonesia.

Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari rekam jejak Bishop Joshua Tewuh yang telah lama bergerak di berbagai sektor. Kiprahnya tidak hanya berada di lingkungan gerejawi, tetapi juga menyentuh dunia pendidikan, pengembangan kepemimpinan, hingga advokasi sosial dan kemanusiaan.

Berangkat dari Pelayanan dan Pendidikan

Dalam perjalanan pelayanannya, Bishop Joshua Tewuh tercatat sebagai Ketua Sinode Gereja Imanuel. Ia juga mendirikan Sekolah Tinggi Alkitab Kalam Kristus Jakarta (STALK Jakarta), sebagai bagian dari kontribusinya dalam pengembangan pendidikan dan pembentukan sumber daya manusia di lingkungan Kristen.

Komitmennya terhadap penguatan pendidikan teologi juga diwujudkan melalui inisiasi Sarasehan Nasional Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen Se-Indonesia serta pendirian Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI).

Bagi Bishop Joshua Tewuh, kepemimpinan tidak hanya dibangun dari mimbar dan ruang pelayanan. Kepemimpinan juga membutuhkan ruang dialog, pendidikan, konsolidasi, serta keberanian untuk hadir dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Kehadiran PEMKRIS diharapkan dapat menjadi wadah bersama yang mempertemukan para pemimpin dan tokoh Kristen dari berbagai latar belakang. Persatuan dan kolaborasi menjadi kekuatan penting agar kita dapat memberikan kontribusi yang nyata, baik bagi umat maupun bagi bangsa Indonesia,” ujar Bishop Joshua Tewuh.

Kepedulian terhadap Isu Kemanusiaan

Selain aktif dalam pelayanan dan pendidikan, Bishop Joshua Tewuh juga memiliki perhatian terhadap isu sosial dan kemanusiaan. Melalui program PARADOX PAPUA, ia terlibat dalam gerakan yang berfokus pada kepedulian terhadap masyarakat Papua dan isu keadilan sosial.

Sebelumnya, Bishop Joshua Tewuh juga mendirikan gerakan Jaga Kawal Kekristenan Indonesia atau Christian Watch. Inisiatif tersebut lahir dari perhatian terhadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan hak-hak konstitusional masyarakat Kristen.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu landasan dalam membangun visi PEMKRIS. Organisasi ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat berhimpun para tokoh, tetapi juga memiliki peran nyata dalam mendengarkan, menghubungkan, mendampingi, dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Memimpin Rumah Besar Bersama

Di bawah kepemimpinan Bishop Joshua Tewuh, PEMKRIS hadir sebagai organisasi yang terbuka bagi pemimpin dan tokoh Kristen dari berbagai latar belakang. Mulai dari rohaniawan, cendekiawan, akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, hingga tokoh dari unsur militer dan kepolisian.

Dengan karakter interdenominasi dan independen, PEMKRIS membawa semangat untuk memperkuat persatuan tanpa menjadi bagian dari kepentingan politik praktis.

Ke depan, sejumlah agenda strategis akan menjadi perhatian, termasuk pengembangan kaderisasi pemimpin Kristen, kegiatan diskusi dan kajian, advokasi terhadap lembaga pendidikan, kegiatan sosial dan kemanusiaan, serta pembentukan Crisis Center sebagai wadah penerimaan dan penanganan berbagai persoalan mendesak yang berkaitan dengan hak-hak konstitusional masyarakat Kristen.

Bagi Bishop Joshua Tewuh, tantangan terbesar ke depan bukan sekadar membangun sebuah organisasi, melainkan menyatukan berbagai potensi dan latar belakang menjadi kekuatan bersama.

Melalui PEMKRIS, ia membawa semangat “Jaga, Kawal & Advokasi Kekristenan di Indonesia” sebagai panggilan untuk memperkuat persatuan, membangun kolaborasi, dan menghadirkan peran yang konstruktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan rekam jejak yang terbentang dari pelayanan gerejawi, pendidikan, advokasi, hingga kegiatan sosial dan kemanusiaan, Bishop Joshua Tewuh kini memasuki babak baru sebagai Ketua Umum DPP PEMKRIS. Sebuah mandat untuk memimpin rumah besar bersama dan mengonsolidasikan peran para pemimpin serta tokoh Kristen Indonesia dalam memberikan kontribusi bagi umat, masyarakat, dan bangsa.